Example 728x250
AdvertorialDPMD Kukar

Dua Desa di Kukar Tembus Lomba Produk Unggulan Provinsi, Angkat Potensi Lokal sebagai Sumber Ekonomi Baru

×

Dua Desa di Kukar Tembus Lomba Produk Unggulan Provinsi, Angkat Potensi Lokal sebagai Sumber Ekonomi Baru

Sebarkan artikel ini

TENGGARONG, 9 Juli 2025 — Potensi desa tidak hanya diukur dari letak geografisnya, melainkan juga dari kreativitas dan inovasi warganya. Hal ini dibuktikan oleh dua desa di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang berhasil melaju ke ajang Presentasi Lomba Produk Unggulan Desa tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) tahun 2025.

Desa Lung Anai dari Kecamatan Loa Kulu dan Desa Muara Badak Ulu dari Kecamatan Muara Badak tampil percaya diri dalam sesi presentasi yang digelar secara daring pada 1–2 Juli 2025. Keduanya menampilkan produk khas hasil olahan masyarakat setempat, yakni cokelat lokal dan produk turunan dari buah nipah—hasil pemanfaatan potensi lingkungan sekitar menjadi komoditas bernilai ekonomi.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar, Arianto, menyambut baik pencapaian ini dan menyebutnya sebagai langkah strategis dalam menguatkan identitas ekonomi desa.

“Kami ingin desa-desa di Kukar dikenal melalui produk unggulan yang lahir dari potensi dan kreativitas masyarakatnya, bukan semata dari peta wilayah,” ujar Arianto, Rabu (9/7/2025).

Produk Lokal Bernilai Tinggi

Desa Lung Anai mengangkat produk cokelat LA, hasil olahan kakao lokal yang memiliki cita rasa khas dan diproses langsung oleh masyarakat desa. Sementara itu, Desa Muara Badak Ulu memanfaatkan pohon nipah sebagai sumber ekonomi baru dengan menghadirkan produk turunan seperti teh daun nipah, tepung nipah, garam nipah, hingga briket dari batoknya.

“Produk unggulan desa seperti ini bisa menjadi kunci kemandirian ekonomi lokal. Bila dikelola secara berkelanjutan, akan mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelas Arianto.

Seleksi dua desa ini didasarkan pada sejumlah indikator, termasuk keunikan produk, daya saing di pasar, keberlanjutan usaha, serta kontribusinya terhadap pemberdayaan masyarakat. Kedua desa dinilai berhasil mengangkat potensi khas wilayah masing-masing menjadi produk bernilai tambah.

Dari Tanaman Liar Menjadi Sumber Cuan

Kepala Desa Muara Badak Ulu, Ruslan Effendi, menyampaikan bahwa olahan berbasis nipah yang mereka kembangkan bukan sekadar bentuk inovasi, tetapi juga wujud perubahan cara pandang warga terhadap potensi alam di sekitar mereka.

Melalui kelompok usaha UKM Cahaya Mentari, desa telah mengembangkan empat jenis produk dari tanaman nipah. Dukungan berupa pelatihan, alat produksi, dan promosi dari pemerintah desa turut mempercepat transformasi ini.

“Dulu tanaman nipah dianggap tidak berguna. Sekarang, justru menjadi sumber penghasilan baru bagi warga. Ini adalah hasil kerja keras bersama yang patut dibanggakan,” ujar Ruslan.

Dorong Desa Lain Gali Potensi Lokal

Arianto berharap pencapaian ini dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Kukar agar lebih aktif menggali dan mengembangkan potensi lokal. Ia menekankan bahwa wajah baru pembangunan desa dimulai dari inovasi dan keberanian masyarakat dalam menciptakan nilai tambah.

“Ketika desa mampu menghasilkan produk yang bernilai dan kompetitif, maka di sanalah tumbuh rasa percaya diri, kemandirian, dan kemajuan yang berkelanjutan,” tutupnya.

Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah dan partisipasi aktif masyarakat, Kukar optimistis dapat mendorong lebih banyak desa untuk tampil sebagai penggerak ekonomi berbasis potensi lokal. (Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *