Example 728x250
AdvertorialDPMD Kukar

Pemdes Muara Muntai Ilir Tekan Angka Stunting Lewat Kolaborasi Lintas Sektor

×

Pemdes Muara Muntai Ilir Tekan Angka Stunting Lewat Kolaborasi Lintas Sektor

Sebarkan artikel ini

TENGGARONG, 2 Agustus 2025 — Pemerintah Desa (Pemdes) Muara Muntai Ilir, Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), terus menggencarkan upaya penurunan angka balita berisiko stunting melalui kolaborasi lintas sektor dan intervensi program yang terarah.

Kepala Desa Muara Muntai Ilir, Arifadin Nur, menyampaikan bahwa persoalan stunting menjadi perhatian serius pemerintah desa dan rutin menjadi agenda utama dalam forum rembuk stunting yang digelar setiap tahun.

“Tahun lalu kami mencatat sebanyak 33 balita yang masuk kategori berisiko stunting. Alhamdulillah, setelah dilakukan berbagai intervensi, tahun ini jumlahnya menurun menjadi 15 balita,” ujarnya belum lama ini.

Penurunan tersebut, lanjut Arifadin, tidak terlepas dari sinergi berbagai pihak, seperti kader posyandu, petugas puskesmas, serta dukungan aktif lembaga-lembaga lokal yang terlibat dalam program penanganan stunting di tingkat desa.

Dalam rembuk stunting terakhir, pemerintah desa juga telah menyusun target baru guna memastikan angka stunting dapat terus ditekan pada tahun-tahun berikutnya.

“Target tersebut kami susun secara bersama. Harapannya, dengan keberlanjutan program dan penguatan kolaborasi, jumlah balita yang berisiko stunting bisa terus menurun secara signifikan,” jelasnya.

Salah satu langkah konkret yang telah dilakukan Pemdes Muara Muntai Ilir adalah pengadaan alat penunjang posyandu, seperti timbangan bayi digital dan alat ukur tinggi badan, guna memastikan akurasi dalam proses pengumpulan data.

“Ketersediaan alat ukur yang tepat sangat penting. Jika alatnya tidak lengkap atau tidak berfungsi dengan baik, tentu akan berdampak pada ketepatan data yang kami kumpulkan,” tegas Arifadin.

Tak hanya memperbaiki sarana dan prasarana, Pemdes juga rutin melakukan evaluasi terhadap kinerja posyandu serta memantau langsung kualitas pelayanan yang diberikan. Keterlibatan masyarakat pun terus didorong, termasuk peran aktif ketua RT dalam memastikan partisipasi warga.

“Kader posyandu, puskesmas, ibu-ibu RT, semua sudah memiliki komitmen. Jika ada warga yang enggan membawa anaknya ke posyandu, maka kader akan menjemput langsung ke rumah,” tutupnya.

Upaya terpadu ini diharapkan dapat menjadi model penanganan stunting berbasis desa yang efektif dan berkelanjutan, sekaligus mempercepat pencapaian target penurunan stunting di Kukar secara keseluruhan. (Adv)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *