Example 728x250
AdvertorialDPMD Kukar

Desa Loa Lepu Kembangkan Inovasi Pengolah Sampah Tanpa Asap, Solusi Ramah Lingkungan dari Tingkat Lokal

×

Desa Loa Lepu Kembangkan Inovasi Pengolah Sampah Tanpa Asap, Solusi Ramah Lingkungan dari Tingkat Lokal

Sebarkan artikel ini

TENGGARONG, 28 Juli 2025 — Pemerintah Desa Loa Lepu, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), tengah mengembangkan sebuah inovasi teknologi pengolahan sampah yang ramah lingkungan dan efisien. Melalui program bertajuk Innovation Minimum Carbon, desa ini menawarkan solusi alternatif dalam pengelolaan sampah tanpa menimbulkan asap maupun pencemaran udara.

Kepala Desa Loa Lepu, Sumali, mengungkapkan bahwa mesin pengolah sampah tersebut merupakan hasil inisiatif dan perakitan mandiri yang didesain secara sederhana namun memiliki daya guna tinggi. Mesin ini diklaim mampu membakar sampah secara tertutup tanpa menghasilkan asap atau bau yang mengganggu.

“Inovasi ini kami beri nama ‘Innovation Minimum Carbon’. Mesin ini dirancang agar proses pembakarannya tidak menghasilkan asap, sehingga sangat ramah lingkungan,” ujar Sumali.

Proses perakitan mesin masih berlangsung, namun Sumali optimistis bahwa jika uji coba berjalan lancar, teknologi ini dapat menjadi model percontohan dan direplikasi oleh desa-desa lain di Indonesia, terutama yang menghadapi keterbatasan infrastruktur pengelolaan sampah.

“Untuk satu desa dengan jumlah penduduk sekitar 2.000 jiwa, cukup satu unit mesin. Harapannya, teknologi ini bisa dikembangkan secara luas sebagai solusi lokal yang aplikatif dan murah,” tambahnya.

Dari sisi operasional, mesin ini dinilai sangat hemat biaya. Sumber energinya menggunakan elpiji 3 kilogram, dan satu tabung dapat digunakan hingga lima hari. Dengan demikian, pengeluaran maksimal hanya sekitar Rp300 ribu per bulan, menjadikannya solusi ekonomis untuk skala desa.

Mesin ini juga memiliki kapasitas yang cukup besar, yakni mampu mengolah antara 2 hingga 4 ton sampah per hari. Sistem pembakaran tertutupnya membuat proses berlangsung tanpa gangguan terhadap kualitas udara maupun lingkungan sekitar.

Tidak hanya berhenti pada pengolahan sampah padat, inovasi ini juga membuka peluang pemanfaatan limbah cair hasil pembakaran. Saat ini, cairan tersebut tengah melalui uji laboratorium untuk mengetahui potensi penggunaannya sebagai bahan dasar herbisida organik.

“Kami sedang lakukan pengujian. Jika hasilnya aman, cairan ini bisa menjadi alternatif herbisida yang ramah lingkungan untuk pertanian,” jelas Sumali.

Ia menegaskan bahwa pengembangan mesin ini merupakan respons terhadap kebutuhan nyata di tingkat desa atas teknologi pengelolaan sampah yang praktis, hemat, dan berkelanjutan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa desa juga mampu menghadirkan inovasi yang berdampak luas. Jika berhasil, kami berharap ini bisa menjadi solusi nasional dalam penanganan sampah berbasis komunitas,” pungkasnya. (Adv)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *