Example 728x250
AdvertorialDPMD Kukar

UMKM Olahan Singkong Margahayu Bertahan di Tengah Keterbatasan Pasar

×

UMKM Olahan Singkong Margahayu Bertahan di Tengah Keterbatasan Pasar

Sebarkan artikel ini

TENGGARONG, 23 Juli 2025  — Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan akses pasar, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Margahayu, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), terus berupaya mengembangkan potensi ekonomi lokal. Produk unggulan berbahan dasar singkong dan tepung tapioka kini mulai dikenal hingga luar wilayah desa.

Kepala Desa Margahayu, Rusdi, menjelaskan bahwa sebagian besar UMKM tumbuh dari inisiatif masyarakat tanpa ketergantungan pada bantuan eksternal. Beberapa di antaranya bahkan telah menjalin kemitraan dengan mitra usaha dari luar daerah.

“Masyarakat di sini telah menghasilkan berbagai produk olahan singkong. Saat ini sudah ada kerja sama dengan pihak luar, dan sebagian produk juga dipasarkan ke luar desa,” tuturnya.

Namun, Rusdi mengakui bahwa pelaku UMKM di Kalimantan menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan daerah lain, khususnya Pulau Jawa. Kepadatan penduduk yang rendah dan jarak antarwilayah yang jauh menjadi faktor penghambat dalam distribusi produk dan perluasan pasar.

“Kalau di Jawa, produk rumahan cepat terserap karena jumlah penduduknya padat. Di sini, potensi produksi memang ada, tapi pasar terbatas. Ini tantangan utama kami,” jelasnya.

Menurut Rusdi, upaya pemberdayaan pernah dilakukan ketika perusahaan PT Multi Harapan Utama (MHU) mengalihkan sebagian aktivitasnya ke wilayah Margahayu. Situasi tersebut sempat membuka peluang ekonomi baru, terutama bagi ibu rumah tangga yang dilibatkan dalam pelatihan pengolahan makanan berbahan dasar singkong.

Namun, tantangan masih muncul pada aspek pemasaran. Banyak pelaku usaha mengalami kesulitan menyalurkan produk secara berkelanjutan ke pasar yang lebih luas.

“Kami sudah mendorong warga, khususnya ibu-ibu, untuk ikut pelatihan. Tapi ketika masuk ke tahap pemasaran, banyak yang belum siap,” ujarnya.

Rusdi berharap pengembangan UMKM tidak berhenti pada pelatihan teknis semata. Ia menilai, pendampingan yang berkesinambungan dari pemerintah dan sektor swasta sangat dibutuhkan agar UMKM lokal dapat mandiri dan berkembang.

“Kalau hanya pelatihan satu kali lalu ditinggalkan, sulit untuk berkembang. Harus ada pembinaan yang konsisten agar usaha warga bisa bertahan dan naik kelas,” pungkasnya.(Adv)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *